Friday, June 10, 2011

Ketika sang Episteme berbicara Multicultur

Epistimologi Multikulturalisme

Epistimologi terbentuk dari dua kata, yakni Epistemé yang berarti Pengetahuan. Dan Logos yang berarti Ilmu. Jadi, Epistimologi adalah ilmu yang mempelajari tentang suatu ilmu pengetahuan. Pada suatu pengetahuan, Epistimoligi mempelajari lebih dalam tentang ilmu tersebut. Berusaha mengerti dan mencari makna yang terkandung di dalamnya. Setelah makna dari ilmu pengetahuan itu di dapat, maka Epistimologi beusaha mencari sabda atau kata-kata yang tesembunyi di dalamnya. Ini merupakan metode yang sama dengan Semiotik, dimana dalam setiap ilmu terdapat suatu tanda yang harus dijabarkan untuk mendapatkan suatu arti dari ilmu yang bersangkutan.

Epistimologi multikulturalisme lebih tertuju pada suatu tanda atas peristiwa di dalamnya. Kadang, orang hanya memandang suatu proses budaya hanyalah sebuah hal biasa terjadi, tapi hanya sedikit yang memiliki rasa yang dalam untuk lebih peka terhadap kultur itu sendiri. Budaya tidak terlahir dengan sendirinya. Tapi budaya sengaja diciptakan oleh manusia atas segala pengetahuan yang telah ada. Budaya adalah sesuatu yang dikembangkan, yang ditemukan melalui suatu proses. Artinya, budaya terbentuk atas dasar kesepakatan dari suatu kelompok tertentu.

Suatu konflik sering sekali terjadi pada suatu masyarakat di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, nyawa pun sudah tidak memiliki harga. Selalu mengatas namakan untuk menjaga budaya, akan tetapi tidak pernah menghargai sesame budaya. Hormat akan budaya, tapi tidak pernah menghormati akan sesama budaya.

Konflik multikultur biasanya terjadi karena ketidakmampuan kita memandang dari sudut pandang orang lain, hanya melihat sesuatu dari sudut pandang pribadi sendiri. Merasa bahwasanya budaya kitalah yang paling realis, sedangkan budaya orang lain dipandang sebagai budaya yang asing, yang tidak pantas untuk kita tiru.

Di sinilah Epistimologi multikulturalisme berperan. Epistimologi berusaha untuk membuka wawasan kepada masyarakat luas tentang indahnya sebuah perbedaan pada suatu kultur masyarakat. Karena pada dasarnya, ketika kita melihat lebih dalam terhadap suatu kebudayaan lain, semua budaya adalah baik. Walaupun Masing-masing budaya memiliki perbedaan, akan tetapi pada masing – masing budaya memiliki karakteristik yang menonjolkan aspek kebaikan di dalamnya.

Dari paragraph di atas, lantas pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, ketika sebuah budaya dipertanyakan, apakah kita bisa menyalahkan kebudayaan? jawaban yang dihasilkan adalah kembali kepada diri kita masing-masing. Apa yang dapat kita artikan sebagai suatu kebudayaan? apa yang dapat kita pelajari dari suatu kebudayaan? dan apa yang harus kita sikapi dari suatu kebudayaan? karena setiap masing-masing budaya, memiliki unsure semiotic yang baik di dalamnya.